Polres Sidoarjo Gelar Kegiatan FGD Kontra Radikal Dihadiri Tim Div Humas Polri

SIDOARJO – Polresta Kabupaten Sidoarjo menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Gedung Serba Guna dengan tujuan Pencegahan Penanggulangan Paham Radikal dan Terorisme di Wilayah Kabupaten Sidoarjo.

Mengambil tema “Terorisme Musuh Kita Bersama”, kegiatan FGD tersebut dihadiri Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji, Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Dr. Ahmad Ramadhan beserta tim, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Dir Intelkam Polda Jatim, BNPT, Densus 88 AT, serta Eks teroris Muhammad Yusuf dan Sahrul Munib, sebagai nara sumber.

Hadir pula instansi terkait seperti, Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo, Kemenag Kabupaten Sidoarjo, dan juga para tokoh agama Kabupaten Sidoarjo diantaranya Ketua PC NU Kabupaten Sidoarjo, Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo dan Ketua MWC NU se-Kabupaten Sidoarjo.

Dalam sambutannya, Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyatakan bahwa diskusi ini berfokus pada memerangi Terorisme dan mencegah paham Radikalisme masuk ke Indonesia, khususnya di Sidoarjo, Jawa Timur.

“Kedatangan Tim Divisi Humas Polri di Jawa Timur, khususnya di Polresta Kabupaten Sidoarjo ini, dalam rangka melihat secara langsung kegiatan kontra radikal,” jelas Ramadhan.

Ditambahkan, beberapa waku yang lalu Polri telah merilis penangkapan terduga teroris sebanyak 22 orang di Jawa Timur yang sebagian berasal dari Kabupaten Sidoarjo.

Sebelumnya, Polri juga telah menangkap terduga teroris di Makassar, Gorontalo dan Lampung.

Ramadhan juga menjelaskan bahwa saat ini ada dua kelompok jaringan teroris di Indonesia, yang pertama jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jemaah Islamiyah.

Kelompok atau jaringan teroris jamaah islamiyah terafiliasi dengan kelompok teroris Al Qaeda, sedangkan kelompok teroris jamaah JAD terafiliasi dengan ISIS.

Dijelaskan pula bahwa kegiatan ini digelar bertujuan untuk memberikan ketahanan terhadap paham-paham radikal yang merupakan bibit-bibit aksi terorisme di Indonesia. Pemahaman radikal tersebut bisa tumbuh dan berkembang.

“Kegiatan ini digelar untuk memberi ketahanan masyarakat terhadap paham-paham radikalisme dan aksi terorisme”, tambahnya.

Terorisme dan radikalisme seperti sel-sel yang tidur yang suatu saat akan bangun dan bangkit yang membahayakan orang banyak atau masyarakat.

Di lingkungan Polri ada Densus 88, dalam hal penegakan hukum dalam aksi-aksi terorisme.

Namun pola pencegahan perlu dilakukan oleh Polri dengan cara preventif maupun preemtif, yaitu upaya pencegahan terhadap paham radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Kegiatan hari ini merupakan kegiatan pencegahan dan penanaman terhadap ketahanan masyarakat untuk tidak terpapar paham radikalisme, sehingga tokoh-tokoh masyarakat yang diundang ini untuk bersama-sama membantu Polri memerangi aksi terorisme di Indonesia,” pungkas Ramadhan.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button